PartnerBisnismu

Tempatnya berbagi ilmu tentang apapun yang sedang ingin di curahkan

Risiko Reksadana dan Cara Mengatasinya

Investasi Reksadana tidak hanya mempunyai keuntungan saja. Namun, investasi ini juga memiliki resiko sama seperti instrument investasi lainnya. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengetahui apa saja risiko Reksadana beserta cara mengatasi resiko tersebut.

Reksadana termasuk sebagai salah satu investasi yang terbaik dan termudah. Walaupun demikian, setiap investasi tentu memiliki resiko. Karena itulah, pada kesempatan kali ini kami akan membahas mengenai keuntungan dan risiko Reksadana untuk investor.

Tidak cukup jika hanya membahas keuntungan yang dapat investor peroleh setiap bulan dan cara perhitungan keuntungan reksadana. Selain itu, kita juga harus mengerti resiko dan potensi kerugian yang harus investor ketahui dengan jelas dari awal.

Resiko merupakan salah satu hal yang sangat melekat pada investasi. Tidak mungkin apabila suatu investasi tidak memiliki resiko.

Tujuan dari mengatahui resiko tersebut yaitu bukan untuk membuat investor takut dan khawatir. Melainkan bagaimana cara agar kita dapat mengelola resiko tersebut sehingga dapat memperoleh hasil yang maksimal.

Melalui memahami secara jelas tentang resiko tersebut, maka Anda juga dapat membandingkan keunggulan dan kelemahan insturmen yang lainnya.

Risiko Reksadana

Salah satu tugas investor yakni memahami apa saja yang menjadi resiko investasi ini dan bagaimana pula cara mengelolanya agar dampak negative dapat diminimalisir.

1. Return Reksadana Tidak Pasti

Banyak orang memiliki anggapan bahwa Reksadana sama seperti tabungan atau deposito. Namun, pemahaman tersebut sebenarnya salah. Kedua instrument tersebut sangat berbeda. Karena Reksadana memiliki resiko yang lebih tinggi dan keuntungannya pun tidak pasti.

Selain itu, return dari Reksadana ini juga tidak pasti. Anda dapat mendapat keuntungan, bahkan juga dapat mengalami kerugian.

Cara yang dapat Anda lakukan untuk mengelola ketidakpastian ini, antara lain:

  • Memilih Reksadana yang tepat. Reksadana memiliki berbagai macam jenis yang berbeda serta tingkat resikonya juga berbeda pula. Ketapatan dalam memilih Reksadana yang sesuai dengan tujuan keuangan menjadi kunci dari keberhasilan rencana investasi Anda.
  • Melakukan diversifikasi. Sebaiknya Anda tidak meletakkan semua uang Anda pada satu tempat saja. Lebih baik jika Anda menyebarkan ke berbagai instrument investi yang ada. Tujuannya agar jika instrument satu mengalami kerugian, maka masih ada instrument investasi yang lainnya.2

Baca Juga: 

2. Tidak Tersedia Jaminan dari Pemerintah

Apabila Reksadana mengalami kerugian, maka nasabahlah yang harus menanggung semua kerugian tersebut. Karena Reksadana ini tidak tersedia jaminan perlindungan dari pemerintah.

Hal tersebut berbeda dari tabungan dan deposito yang memperoleh jaminan dari pemerintah. Sehingga, jika Anda meletakkan uang pada tabungan, nilainya tidak akan mungkin berkurang.

Oleh karena itu, melalui resiko yang kedua ini, investor harus pandai memilih jenis Reksadana mana yang tepat. Selain itu juga melakukan diversifikasi investasi.

3. Tidak Terdapat Proteksi Jiwa

Bagaimanakah apabila pencari nafkah terkena musibah yang menyebabkan tidak dapat lagi melanjutkan investasi pada Reksadana?

Jawabannya adalah investasi akan berhenti. Karena pada Reksadana ini tidak terdapat pihak lain yang menggantikan dan melanjutkan investasi tersebut.

Reksadana tidak mempunyai proteksi asuransi, alasannya karena ia merupakan investasi yang murni. Dan hal ini adalah sebuah resiko.

Akan tetapi, investor dapat mengelola resiko tersebut dengan cara membeli asuransi jiwa sebagai proteksinya. Apabila investor mengalami musibah, maka masih terdapat uang dari asuransi untuk melanjutkan investasi tersebut.

Lalu asuransi apakah yang perlu investor beli? Kami memberikan rekomendasi Asuransi Jiwa Term-Life. Asuransi tersebut memiliki premi yang murah, dan tentunya memiliki nilai proteksi yang besar.

Bagi asuransi yang digabung dengan investasi, asuransi unit link, maka perlu Anda teliti lagi dengan cermat, apakah cocok atau tidak.

4. Harus Inisiatif Sendiri

Investasi pada Reksadana memerlukan kedisiplinan ketika menabung. Hal ini karena tidak terdapat pihak yang mengingatkan investor. Jadi, apabila lupa, maka investor akan kehilangan momentum.

Berbeda dari asuransi, di mana nasabah harus membayarkan preminya secara rutin. Sedangkan pada Reksadana tidak terdapat kewajiban untuk melakukan pembayaran secara rutin.

Akan tetapi, kelapaan pada Reksadana ini dapat Anda atasi melalui bantuan program “Auto Invest”. Ini merupakan sebuah program investasi dari Reksadana yang telah diatur secara otomatis tiap bulannya. Sehingga pada setiap bulan nantinya uang Anda yang ada pada tabungan akan secara otomatis terpotong. Gunanya adalah untuk diinvestasikan ke Reksadana yang telah Anda pilih.

Jadi, pemodal tidak perlu merasa khawatir lagi terkait lupa untuk melakukan investasi. Karena secara otomatis sistem akan melakukan pemotongan pada rekning investor sesuai jumlah yang sudah ditentukan untuk kemudian ditempatkan pada Reksadana.

Baca Juga: Cara KPR Rumah Agar Lolos Persetujuan Bank

5. Reksadana Dapat Dibubarkan

Terdapat beberapa kondisi yang mana Reksadana akan di bubarkan, antara lain:

  • Mendapat perintah dari OJK sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  • Nilai aktiva bersih Reksadana jadi kurang dari Rp 25 Miliar selama 90 hari bursa berturut-turut. Maka, Manajer Investasi akan membubarkan dan melakukan likuidasi.

Lalu bagaimanakah cara untuk menghadapi resiko tersebut?

Pada ketentuan ini, kita bisa melihat bahwa kinerja yang buruk akan berujung pada pembubaran Reksadana. Oleh karena itu, investor harus memilih Reksadana yang miliki kinerja baik.

Investor juga harus melihat pada daftar Reksadana, kemudian melakukan analiasa pada data nilai aktiva bersih.

Perhitungan dari nilai aktiva bersih reksadana ini akan mununjukkan banyaknya jumlah uang di reksadana yang Manajer Investasi kelola. Semakin banyak uang, maka semakin kuat pula Reksadana tersebut.

Jadi, apabila Reksadana yang Anda pilih memiliki kinerja yang bagus, maka tidak mungkin akan dilakukan pembubaran.

6. Pencairan Dapat Tidak Dilakukan

Normalnya, pencairan Reksadana ini akan dilakukan dalam waktu tiga hari. Sehingga, apabila investor mencairkan pada hari ini maka tiga hari kemudian uang telah masuk ke rekening nasabah.

Hal tersebut yang seharusna terjadi. Namun apa bisa tidak masuk dalam waktu tiga hari? Jawabannya tentu saja bisa. Dan inilah yang merupakan resikonya.

Terdapat resiko likuiditas. Pada resiko ini penjualan kembali atau pelunasannya akan tergantung pada likuiditas dari portofolio atau kemampuan yang Manajer Investasi miliki untuk melakukan pembelian kembali (melunasi) dengan cara menyediakan unag tunai.

Resiko likuiditas bisa timbul apabila pada waktu yang bersamaan, semua investor menjual Reksadana dan Manajer Investasi gagal untuk menyediakan dana.

Untuk mengatasi hal tersebut, maka kita harus melihat kekuatan yang Manajer Investasi punya. Salah satunya yaitu dapat dengan melihat besarnya dana kelolaan atau AUM Manajer Investasi.

AUM merupakan asset bersih yang Manajer Investasi kelola. Nilai dari AUM sendiri dapat investor lihat. Salah satunya dapat kita lihat melalui Bareksa data reksadana.

Dana kelolaan tersebut akan mencerminkan kepercayaan investor kepada Manajer Investasi. Semakin besar maka semakin baik pula.

Risiko Reksadana dan Cara Mengatasinya
Risiko Reksadana dan Cara Mengatasinya

Penutup

Reksadana tentunya memberikan tawaran return dengan jumlah yang lebih tinggi daripada tabungan dan deposito. Akan tetapi, juga ada risiko Reksadana.

Sebagai investor wajib untuk memahami dengan jelas resiko tersebut dan juga mencari jalan keluar untuk mengatasi resiko tersebut.

Sekian artikel dari PartnerBisnismu tentang risiko Reksadana yang perlu Anda pahami dengan jelas. Semoga bisa bermanfaat untuk kalian semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *