PartnerBisnismu

Tempatnya berbagi ilmu tentang apapun yang sedang ingin di curahkan

Sumber Rujukan Hukum Bisnis Syariah yang Harus Diketahui

Sumber Rujukan Hukum Bisnis Syariah yang Harus Diketahui

Hukum bisnis Syariah di Indonesia mempunyai berbagai rujukan sebagai acuan dan landasan untuk menentukan apakah apa yang dilakukannya itu diperbolehkan atau tidak. Hal ini sangat penting karena, dijadikan pegangan pengusaha.

Andai saja mereka ingin membuat perusahaan berbasis syariah. Maka, harus mengikuti aturan tersebut. Dimana, rujukannya ada di Kitab Undang-Undang Hukum yang memuat perdata serta dagang.

Baik, mari dibahas dulu mengenai perdata. Dunia bisnis pasti ada unsur hutang piutang, sewa, serta jual beli. Semuanya sudah terikat dalam peraturan tertulis. Jadi, mereka tidak akan bisa lari.

Bila dalam perjalanannya ada yang melanggar perjanjian di antara dua belah pihak. Dengan begini, perlindungan akan terjamin sehingga, kesepakatan bisa terjamin. UU kedua mengatur mengenai dagang.

Di sini, semua para pelaku akan diikat oleh sebuah aturan mendasar bagaimana mendapatkan keuntungan. Bahkan, para pelakunya wajib mendaftarkan usaha mereka sebagai bentuk perhatian kepada pelanggan, bila terjadi sesuatu.

Perusahaan berbadan hukum adalah wajib. Kondisi tersebut menunjukkan apakah mereka profesional atau tidak. Dalam perdata ini juga diatur mengenai hubungan antar manusia dalam perdagangan di mata UU.

Hukum Bisnis Syariah Mengedepankan Ajaran Islam

Jika, mendirikan usaha konvensional. Maka, rujukannya cukup mempelajari UU di atas saja. Asalkan tidak melanggar, pasti terbebas dari hukuman tersebut. Tetapi, khusus syariah sendiri masih ada lagi yang harus diperhatikan.

Pada dasarnya aturan UU di Indonesia tidak berbeda jauh dengan Al-Qur’an dan Hadits. Hanya saja, lebih diperingan dengan syarat serta ketentuan berlaku. Misalnya, dalam kasus hutang piutang tetap memakai bunga.

Hanya saja yang wajar, perhitungannya bulan bulan melain kan tahun. Bila ditetapkan sebesar 30% maka per bulan hanya ada di kisaran 2% saja. Kondisi tersebut dilihat dari kaca mata bisnis.

Jadi, angka 30% tersebut digunakan perusahaan untuk biaya operasionalnya. Bisa perawatan mesin, gedung, membayar gaji karyawan dan lain sebagainya. Jadi, bukan murni untuk keperluan pribadi dan memperkaya diri.

Hukum bisnis Syariah ketentuannya akan bertambah, dengan melihat pertimbangan di dalam Al-Quran dan Hadits seperti apa. Tidak heran, bila pengawasannya terdapat Dewan khusus yang akan memberikan fatwa diperbolehkan atau tidak.

Hal ini memang sedikit rumit, karena berdagang dalam islam sendiri sebenarnya sudah diatur sedemikian rupa. Termasuk proses hutang piutang, cara mengembalikan, dan adab untuk menagihnya, semua sudah dijelaskan.

Hukum Bisnis Syariah Berdasarkan Fatwa Dewan

Pada perjalanannya, setiap pelaku usaha berbasis Syariah harus mengikuti seluruh aturan dari Dewan Pengawas. Jika, bergerak di bidang keuangan pengawasannya bertambah dari OJK. Lembaga ini berwenang dalam menetapkan status perusahaan.

Bahkan, mereka juga menentukan produk atau jasa yang akan diperdagangkan tersebut apakah sudah sesuai prinsip syariat islam atau belum. Penentuannya cukup mudah, semua berawal dari akad atau kontrak perjanjian.

Berdasarkan para ulama, kesepakatan tersebut harus keridhoan dari kedua belah pihak tanpa pemaksaan sama sekali. Dalam pelaksanaannya, lembaga tersebut juga memberikan fatwa mengenai penggunaan digital.

Apakah sudah sesuai ketentuan atau belum. Pendirian perusahaan berbasi syariah ini juga harus terhindar dari uang riba. Dimana, penambahan dalam hutang tidak diperbolehkan. Jadi, diharamkan adanya biaya administrasi.

Kondisi seperti ini harus diperhatikan dengan benar. Jika, masih ada penambahan, mungkin akad yang dilakukan berbeda. Harus diakui sedikit rumit, tetapi berdagang halal bisa memberikan keberkahan bagi pedagang dan pembeli.

Indonesia negara muslim terbanyak di Dunia, perdagangan berbasis islam harus dijalankan sesuai ketentuan dan rujukan yang ada. Hukum bisnis Syariah menjadi landasan utama dan wajib dipahami bagi para pengusaha.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *